Dsport.discoverynews.id 28 mei 2026 Nama Maarten Paes kembali jadi bahan perdebatan panas di Belanda. Penampilan sang penjaga gawang yang beberapa kali tampil heroik justru masih belum cukup membungkam suara-suara tajam dari para pengamat sepak bola Negeri Kincir Angin.
Salah satu kritik paling keras datang dari analis Belanda yang menyebut Paes “buruk dalam setiap aspek penjaga gawang.” Kalimat itu langsung memantik reaksi besar di media sosial karena dianggap terlalu berlebihan untuk seorang pemain yang justru beberapa kali menjadi penyelamat timnya.
Di Belanda, posisi kiper memang seperti hidup di bawah mikroskop. Sedikit salah antisipasi, telat membaca arah bola, atau distribusi umpan yang kurang akurat bisa langsung berubah menjadi headline tajam. Dan sekarang, Paes sedang berada tepat di tengah badai itu.
Ironisnya, kritik tersebut muncul ketika performa Paes sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Dalam beberapa pertandingan terakhir, ia masih mampu melakukan penyelamatan penting dan menjaga timnya tetap hidup di laga krusial. Namun standar untuk seorang kiper di klub besar Eropa bukan sekadar menepis bola. Mereka dituntut sempurna sejak build-up, positioning, hingga distribusi kaki.
Gaya permainan Paes sendiri memang lebih dikenal sebagai shot stopper klasik. Refleks cepat, duel satu lawan satu, dan kemampuan membaca penalti menjadi kekuatan utamanya. Tetapi sepak bola modern Belanda menginginkan lebih: kiper yang bisa menjadi playmaker pertama dari belakang.
Dan di situlah kritik mulai menumpuk.
Media Belanda terkenal tidak punya rem ketika membahas pemain yang dianggap belum memenuhi ekspektasi. Apalagi ketika tekanan kompetisi Eropa mulai meningkat. Satu kesalahan kecil bisa dibahas berhari-hari, dipotong jadi cuplikan, lalu diperdebatkan di televisi nasional.
Bagi publik Indonesia, serangan terhadap Paes terasa terlalu kejam. Namun bagi kultur sepak bola Belanda, kritik seperti itu dianggap bagian dari tekanan elite football.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Paes mampu melakukan penyelamatan spektakuler.
Tetapi apakah ia bisa bertahan hidup di tengah tuntutan brutal sepak bola Belanda yang tidak pernah benar-benar memberi ampun.














Komentar